0
Segitiga Part 2
Posted by Deyana Cindy
on
06.14
"Mungkin aku hanya butuh waktu untuk berpikir dan memutuskan suatu hal yang tepat", tambahku.
"Ya, aku hanya tidak ingin ini menyakitimu pada akhirnya"
Rasanya aku jadi kehilangan mood untuk mengobrol,jadi sepanjang perjalanan aku hanya mendengarkan Ana bercerita.
Kami baru selesai berbelanja pada pukul 7 malam. Aku membeli beberapa lembar baju.Dan Ana kira-kira membeli 5 buah buku sekaligus. Aku hampir saja mati bosan menunggu Ana memilih-milih bukunya dan menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Hingga akhirnya Ana melihat wajah pasrahku dan buru-buru mengajakku pergi dari sana seakan aku orang yang terserang astma tiba-tiba dan jika tidak diberikan tabung oksigen, aku bisa mati lemas.
Setelahnya kami pergi sholat dan makan malam. Kemudian seusai makan malam kami pun memutuskan untuk segera pulang karena tkut kemalaman.
***Beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Angga atau pacarnya. Hingga aku tahu dari salah satu temanku yang mengatakan bahwa anak kelas 12 sedang study tour ke sebuah tempat untuk bahan membuat tugas akhir.
Tapi dia menitipkan sepeda motornya di sekolah, entah dengan tujuan apa. Jadi rasa rinduku hanya dapat sedikit terobati dengan melihat motornya.
***
Tiga hari berlalu. Teman sekelasku bilang bahwa anak kelas 12 sudah masuk kembali hari ini. Aku senang sekali.Aku memang berharap dapat bertemu dengannya hari ini, tapi entah mengapa rasanya itu tidaklah pantas. Aku bahkan bukan siapa-siapanya, kenal pun kami tidak.Walaupun sebenarnya dia sudah tahu siapa namaku,ketika dengan tidak sengaja aku yang ikut sebuah organisasi di sekolah(walaupun akhirnya memutuskan untuk keluar) ternyata satu organisasi dengan Angga. Jadi karena kami harus saling kenal, dia pernah menanyakan sendiri siapa namaku. Keajaiban pertama.
***Hujan turun cukp deras malam ini. Aku memutuskan untuk segera peri ke kamarsecepat mungkin setelah makan malam. Di kamar,bukannya tidur atau mencoba untuk tidur,otakku malah sibuk memikirkan Angga.
Kami belum bertemulagi dan aku berusaha dengan sekuat tenaga melawan keinginan untuk mencarinya. Aku sedang berusaha untuk melupakannya. Mencoba meyakinkan diriku bahwa mungkin ini hanya perasaan sesaat. Dan mungkin sebenarnya aku tidak pernah benar-benar menyukainya,aku hanya sedang kesepian dan kebetulan bertemu dengannya.
Tiba-tiba aku teringan Ardy. Siapa Ardy? Kau pasti menanyakan hal itu. Ardy, dia adalah teman SMP-ku. Aku mengenalnya saat duduk di kelas 8. Waktu itu aku merupakan salah satu anggota OSIS. Setelah menyelesaikan Ulangan Akhir Semester Genap seperti biasa, kami mengadakan class meeting. Dan saat itulah aku untuk petama kali bertemu dengannya, padahal kami satu angkatan.
Awalnya,aku hanya mengaguminya. Dia benar-benar pintar bermain bola, dan itu mencuriperhatianku. Dengan cekatan, dia beberapa kali berhasil memasukkan bola ke gawang lawan. Rasanya pertandingan itu didominasi olehnya. Bahkan kelasnya keluar sebagai juara pertama.
Dia tampak menarik karena selain wajahnya yang lumayan ganteng, dia juga memakai kemeja yang di doubel dengan kaus olahraga. Hanya dia sendiri yang berpakaian seperti itu. Awalnya aku menganggapnya sedikit aneh,tapi entah mengapa perasaanku berubah.
Aku jadi sering memperhatikan hal-hal kecil tentangnya. Aku paling senang saat dia ada pelajaran olahraga, karena aku bisa melihatnya bermain bola. Dan saat kami mulai sering berjumpa, saat mata kami mulai sering bertemu, dan saat mendapatinya sedang memperhatikanku. Disitulah aku sadar satu hal kecil yang merubah lima bulan terakhirku di SMP menjadi lebih berwarna. Aku sadar bahwa ternyata dia punya perasaan yang sama denganku.
Kami jadi sangat dekat. Sering menelepon, berkirim pesan, jalan berdua dan mengerjakan tugas bersama. Hingga sebuah keputusan keluargaku untuk pindah rumah karena pekerjaan Ayah, merubah segalanya. Padahal kami tahu pada akhirnya kami tetapakan berpisah karen kami sudah duduk di kelas akhir.
Kami saling menjaga jarak.Berusah melupakan satu sama lain. Sampai hari dimana kami untuk terakhir kalinya bertemu, kami tetap memilih bungkam.
Aku dengan susah payah berusaha melupakannya.Tapi tak bisa, terlalu banyak kenangan bersamanya. Setiap saat otakku tak tak henti-hentinya memutar rekaman saat-saat kebersamaan kami,aku sungguh kehilangan dirinya.
Kami bukanlah sepasang kekasih, kami hanya teman biasa. Kami jujur pada perasaan kami masing-masing, tapi kami tidak pernah mengabdikan hubungan kami menjadi sepasang kekasih. Dia tidak pernah memintaku untuk itu dan begitu juga denganku.
Kami terlanjur nyaman dengan keadaan seperti ini, takut-takut jika menjejaki hubungan yang lebih jauh, kami akan terluka. Tapi kami keliru,seperti apapun hubungan kami, semuanya akan sama saja. Karena kami melandaskan hubungan ini dengan ketidakpercayaan dan keegoisan.
Sekarang aku hanya berharap semuanya akan jauh lebih baik. Dan saat itulah Angga datang. Membuat harapan baru tumbuh, membuat semangatku kembali, dan membuatku perlahan-lahan melupakan sosok Ardy., yang entah mengapa selalu punya tempat tersendiri. Semua tentannya tersimpan dengan baik disana dan saat aku perlu untuk mengenangnya, seakan tak pernah ada bagian terkecilpun yang hilang dan seperti aku baru mengalaminya beberapa detik yang lalu.
Tapi perasaanku pada Angga berbeda, walau tak bisa membuatku berhenti mengenang Ardy tapi dia selalu punya cara membuatku selalu memikirkannya.
Bersambung.. Nanti gua lanjut yee :)

Posting Komentar