2
Segitiga Part 1
Posted by Deyana Cindy
on
05.39
Ayam berkokok, matahari menyembul di ufuk timur. Suara Ibu yang lembut membangunkanku, "Ris, bangun Sayang, kau harus pergi ke sekolah nak", aku hanya menjawab dengan terduduk sambil mengucek-ngucek mata berharap dapat membuatnya terbuka dengan sempurna. Ibu segera beranjak pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, mengabaikanku yang sedang berperang melawan kantuk. Dan aku buru-buru mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi karena takut terlambatke sekolah. Setelah selesai mandi, aku pun mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh. Kemudian aku berganti pakaian dan bersiap-siap.
Ibu memanggilku, tanda sarapan sudah siap. Aku segera menuju meja makan. Sambil tersenyum Ibu menyapaku, "Selamat pagi, bagaimana keadaanmu?", "tentu baik, bu, apalagi setelah melhat senyum di wajah Ibu yang cantik itu", aku memuji. Wajah Ibu berseri-seri, "kau ini, pintar sekali memuji". "Itu kenyataannya, bu. Oh iya mana ayah?", aku heran ayah belum juga keluar dari kamarnya padahal sebentar lagi sudah waktunya ayah pergi ke kantor. Ibu segera menjawab "Oh tentang ayahmu, dia minta maaf karena tidak memberitahukan ini sebelumnya kepadamu tapi hari ini dia pergi pagi-pagi sekali karena harus menemui kliennya dari luar kota, dia harus mempersiapkan segalanya dengan baik. Dia bilang minta maaf karena tidak bisa mengantar kau pagi ini ke sekolah", jawaban Ibu menjawab kekhawatiranku, "Oh baiklah kalau begitu tak apa, aku bisa pergi dengan taksi kalau begitu", "Ya baiklah" jawab Ibu singkat. Aku pun segera melahap sepiring nasi goreng dan susu buatan Ibu yang lezat. dan setelahnya aku pamitan pada Ibu untuk berangkat ke sekolah.
Sampai di sekolah, aku langsung menuju kelas dan menghampiri Ana yang sudah sampai lebih dulu di sekolah, "Hai" kataku sambil menepuk pundaknya. Ana tampak terkejut karena nampaknya dia sedang membaca entah buku apa, tapi dia segera menjawab "Hai. Kau mengejutkanku, tahu". Aku tertawa karena berhasil menggodanya, tapi buru-buru berkata "Maaf, maaf, aku tak tahu kau sedang serius membaca buku itu hingga tidak menyadari kedatanganku", "Ya, tak apalah" jawabnya santai. "Oh, iya kau jadi menemaniku belanja hari ini?" kataku setelah ingat kami punya rencana untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan hari ini. "Tentu saja, ada sebuah buku yang ingin sekali kubeli", ingat dengan kegemaran membaca Ana yang sudah kelewat batas, hasrat menggodaku muncul, "Yakin cuma sebuah? Hah?". Ana tersenyum malu-malu, "Hehe, yang sangat ingin kubeli memang hanya sebuah, tapi nampaknya yang perlu aku beli ada beberapa". "Ah tidak, jangan mulai lagi, Na", aku sudah membayangkan bagaimana mengerikannya menemani Ana yang gila membaca membeli buku, cukup membuat bulu kudukku meremang.
***Bel pulang berdering. Aku dan Ana segera beranjak meninggalkan kelas.
Oh tidak, bagaimana mungkin aku merasakan surga dan neraka disaat bersamaan. Mengingat surga dengan aku dapat berbelanja baju sepuasnya dan neraka yaitu menemani Ana membeli buku.
Ana teman sebangkuku, kami saling mengenal setelaj kami tahu berada di kelas yang sama dan kami merasa cocok satu sama lain. Dia anak yang pintar, baik, dan dewasa. Aku sering memintanya mengajari pelajaran yang sedikittak kumengerti, dan dia dengan senang hati mau membantu, Tapi yang aku tak tahan adalah menghadapi kegemaran Ana membaca buku, mungkin itu juga yang menyebabkannya jenius seperti itu. Dia juga sangat sabar menghadapi aku yang suka meledak-ledak. Dia orang yang dapat dipercaya dan terbuka yang membuat persahabatan kami seperti sudah berlangsung bertahun-tahun yang sebelumnya, padahal baru beberapa bulan kami bersahabat karena kami duduk di kelas sepuluh.
Tiba-tiba lamunanku terhenti karena Ana menepuk bahuku, "Ris, lihat siapa itu!", "siapa?" kataku sambil mencari orang yang dimaksud Ana. Dan jantungku berhenti seketika, tapi dengan cepat berdetak dengan kencangnya. "Ya, aku lihat, Na", lidahku jadi kelu kalau sudah gemetaran. Kebiasaan burukku kalau terlalu deg-degan biasanya berubah jadi gemetaran.
Oh, astaga dia melihat kearahku sambil tersenyum tidak karuan seperti biasanya, tapi aku senang mengetahuinya. Aku pun balas tersenyum-senyum seperti dia. Tapi nampaknya dia mau segera pulang, dia langsung menyalakan mesin motornya dan pergi. Aku menangkap ekor matanya melihat kearahku. Rasanya aku mau terbang.
Namanya Rizky Angga Saputra, biasa dipanggil Angga. Tampan, manis, tubuh yang lumayan tinggi,kulit sawo matang, mata besar dengan alis yang tebal ditambah dengan jenggot tipis-tipis yang ada di dagunya, sungguh dia memang sedikit menajubkan. Aku menyukainya sejak kami pertama kali bertemu pada saat MOS. Dia orang yang biasa saja, tapi dia memang nampak spesial. Sedikit berbeda dari orang-orang yang pernah kusukai.Nampaknya dia punya perasaan yang sama denganku, karena dia menunjukkan sinyal yang berarti. Tapi... Ada satu hal yang menggangguku. Ya.. Dia sudah sudah punya seorang kekasih.Aku bingung, tak tahu harus bagaimana. Ana membuyarkan lamunanku, "Iris, ayo cepat naik". Ternyata Ana sudah menyetop sebuah taksi., lalu akupun bergegas naik ke taksi. Ana menyebutkan tempat tujuan kami dan taksi melesat menuju tempat tersebut.
"Ris, tadi dia melihat ke arahmu, loh!", tiba-tiba Ana membicarakan Angga.
"Tidak lihat siapa yang sedang dilihatnya", kataku menggodanya.
Ana mencibir sebal, "Huh!", katanya kesal. Aku hanya tertawa melihatnya.
"Kau tak berniat mendekatinya, Ris?", nampaknya Ana masih penasaran.
"Entahlah, Na. Aku masih bingung", aku menjawab sekenanya.
Ana masih belum puas, "Kau tidak ingin diberi harapan palsu olehnya, kan?"
"Mana ada yang berharap begitu", bingung dengan pertanyaan Ana.
"Mana ada yang berharap begitu", bingung dengan pertanyaan Ana.
Bersambung... Nanti gua sambung lagi deh, gua ditinggal sendiri coba di warnet -____-
